Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMay 22, '08 6:33 AM
for everyone
Tanggal 2 yang lalu Rektor IPB meresmikan Gedung Andi Hakim Nasoetion yang sebelumnya dikenal sebagai Gedung Rektorat IPB, bersamaan dengan peringatan Hardiknas. Sebelumnya, awal tahun ini, beliau merupakan salah satu dari guru besar yang mendapat anugerah "Anugeraha Sewaka Winayaroha". Agak terlambat, bahwa beliau telah meninggal 6 tahun yang lalu, tepatnya pada malam tanggal 4 Maret 2002.

Namun, ada beberapa kenangan yang ternyata juga terlambat untuk dituliskan.Salah satunya adalah tulisan ini.

Saya bukan keluarga besar IPB, tetapi salah satu yang ikut merasakan pengaruh Pak Andi, ketika beliau memimpin STT Telkom. Walau belum pernah ikut ke kelasnya (tidak mengajar di jurusan saya), tetapi saya kadang “menanggap” cerita teman-teman yang mendapatkan kuliah beliau. Dan ternyata kesan yang saya tangkap: pusing kalau kuliah diajar profesor.

Memang, untuk dapat mengikuti “obrolan”, (paling tidak bagi saya) harus konsentrasi penuh, selain untuk menangkap kejelasan ucapan (karena mungkin saat berbicara, bibir beliau kurang terbuka), juga untuk mencerna maksud kata-kata yang diucapkan.

Kadang kala untuk memahami ucapannya, kita harus berpikir keras, atau bahkan harus menebak dan mengira-kira apa maksudnya. Ketika suatu saat pers mahasiswa menurunkan terbitan yang agak nyentil, beliau melalui sekretarisnya (yang cantik, tentu), menitipkan memo yang berisi: Thomas Alfa Edison suatu ketika membuat percobaan di gerbong kereta, dan percobaannya itu meledak.
Kira-kira seperti itu kata-katanya, dan cukup membuat kami seruang redaksi harus bermain tebak-tebakan.

Pak Andi senang melontarkan “humor-humor kelas tinggi dan serius” yang membuat pendengarnya tertawa belakangan setelah mereka berhasil mengerti. Itu pun setelah Pak Andi terbahak-bahak sendiri dengan lelucon yang barusan dilontarkannya.

Ada yang menilai bahwa model gurauan seperti ini adalah model amerika. Kita dipaksa berpikir untuk mendapatkan inti dari gurauan.Jadi, ketika gurauan dijalankan, akan terdapat 2 golongan penikmat gurauan:
1. Yang mengerti dan langsung tertawa
2. Yang gak mengerti, lalu bertanya kepada yang mengerti, baru tertawa.


Keakraban, Bulan Madu yang Usai, dan Bocah Tua Nakal

Walau tidak secara langsung jadi murid, saya sempat beberapa kali berkesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dalam meja kecil yang sama di ruang kerja beliau. Ada kebanggaan ketika itu, bahwa sebagai “pejabat kampus”, di sela-sela kesibukan beliau menata kampus (yang saat itu dapat dikatakan amburadul), menyempatkan diri bertemu secara rutin dengan wakil mahasiswa dari Masjid, Senat Mahasiswa, dan jurnalistik. Saya ada di dua bagian di antaranya.

Pada era menjelang jatuhnya Suharto, ketika kampus lain di Bandung masih belum “berani” keluar, beliau memimpin konvoi lebih dari 1000 mahasiswa, dengan iring-iringan motor, mobil, truk, bus, sepanjang sekitar 1 km. Itu terjadi ketika salah seorang mahasiswa Trisakti tewas ditembak, dan dimakamkan di Bandung.

Namun, masa keakraban itu tidak lama, dan dengan ungkapan beliau “Masa bulan madu kita sudah habis”. Dalam kondisi pertentangan antara mahasiswa dan pihak institusi, beliau merasa menjadi “firewall” yang harus berbenturan dengan berbagai pihak. Eforia “pemberontakan” mahasiswa turut menyeretnya ke dalam masalah ini. Ada julukan yang sengat menyinggungnya mengenai penilaian teman-teman tentang ketidakberesan yang terjadi di kampus, yaitu "birokrat yang tidak becus".

Ada juga “kekeraskepalaan” beliau dalam permasalah dalam kampus itu. Walaupun sebenarnya bisa dipahami bahwa agar masalah bisa diselesaikan masing-masing secara dewasa.

Beliau selesai menjadi Ketua STT Telkom, dan tidak lama kemudian jatuh sakit hingga kemudian meninggal. Secara pribadi, ada perasaan sesal yang amat dalam, karena seolah-olah permasalahan di kampus ikut memperparah sakitnya. Dengan saya ada di salah satu pelaku di dalamnya.

Lepas dari permasalahan itu, sebagaimana di banyak tempat beliau berada, banyak hal bermanfaat yang dibawa. Kampus yang sebelumnya Telkom-oriented jadi lebih berorientasi keilmuan, dan suasana kampus lebih berasa pendidikan. Diakui atau tidak, tidak sedikit jejak yang ditinggalkannya di STT Telkom, yang kini bernama IT Telkom.

Selain melalui organisasi mahasiswa, ada peristiwa yang bagi saya sangat berkesan. Ketika itu, Pembantu Ketua III yang mengurusi kemahasiswaan berasal dari militer, dan banyak teman mahasiswa yang menganggap agar bisa diganti. Bersama beberapa teman, saya membuat polling untuk itu. Ketika polling dilakukan, hari berikutnya keluar tulisan di Kompas (beliau masih rutin menulis di sana), tulisan mengenai survei.
Ya… Bapak ini, setelah “perang dingin” dengan mahasiswa tidak mau menemui perwakilan mahasiswa, tapi malah justru memanfaatkan media massa nasional untuk “menurunkan ilmu” bagi anak-anaknya yang ruangannya hanya beberapa puluh meter dari ruangannya.

Dengan rambut putih, dan sikap yang "nyentrik", maka ada beberapa teman di kampus yang memberikan julukan: "Bocah Tua Nakal". Julukan seperti nama pada salah satu tokoh dalam cerita silat karangan Jin Yong yang berjudul Memanah Burung Rajawali. Bocah Tua Nakal, tokoh nyentrik, kekanak-kanakan (mungkin ini diidentikkan dengan kekeraskepalaan beliau), tetapi saktinya minta ampun. Sebuah julukan yang bercitra rasa sinis, tetapi tetap mengaku takluk, dan sekaligus ada rasa kangen di dalamnya.

Memang bukan masa yang lengkap kami berada dalam pengaruh didikan beliau. Namun, di sini kami menjadi salah satu bagian dari akhir masa pengajaran beliau. Maksudnya, jelas ilmu yang diberikan di sini tidak lengkap, tetapi ada bagian-bagian akhir pemahaman yang “diturunkan” kepada kami ^_^. Salah satunya adalah, di sini beliau ikut “berkenalan” dengan permasalah IT dan telekomunikasi. Yang (mungkin) kemudian dibawa sebagai oleh-oleh ketika kembali ke IPB hingga menjelang sakitnya. (Ini hanya klaim pribadi. Hehehe… )

Sekarang ini, sudah 6 tahun beliau wafat. Kehilangan, jelas. Ada seorang bapak dan sekaligus guru yang seakan hilang sosoknya, dan tak akan pernah kembali. Tetapi, dengan semua yang pengaruh ditinggalkannya, beliau tidak pernah mati dalam kenangan dan semangat kami. Termasuk jadi tidak lagi “alergi” dengan matematika dan statisika.


Menara 13 dan Dayeuhkolot

Ada istilah di kampus STT Telkom saat itu, yaitu Menara 13. Itu mengacu pada adanya 13 menara telekomunikasi di seputar kampus, yang menjadi peran utama disiarkannya Proklamasi Kemerdekaan RI ke seluruh dunia pada Agustus 1945. Namun, dengan alasan biaya operasional yang tinggi, menara-menara itu dibongkar dan dibesituakan. Tidak jelas juga siapa yang memiliki otorisasi di sini, entah Telkom atau pemerintah.

Atas usaha Pak Andi, situs bersejarah ini dapat dipertahankan 2 diantaranya, itupun karena letaknya ada di dalam pagar kampus.

Semangat beliau untuk “nguri-uri” jejak sejarah bangsa di kampus ini tidak kalah dengan ketika mempertahankan bangunan kampus IPB sebagai bangunan sejarah.

Juga tak canggung dan bahkan bangga dengan lokasi Dayeuhkolot (sebagai salah satu lokasi perjuangan jaman dulu dan juga peristiwa Bandung Lautan Api). Sehingga, ketika memberikan sambutan di hadapan peserta paduan suara se-Indonesia yang ketika itu diadakan di STT Telkom, setelah bercerita tentang peran 13 tower itu, ucapannya adalah: “Selamat datang di Dayeuhkolot.”

Sementara banyak “penghuni” kampus ini yang minder dengan ke-Dayeuhkolot-an, dan iri dengan mereka yang berada lebih “ke kota”, Pak Andi justru bangga.

(Catatan: STT Telkom/ IT Telkom ada di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat)


Semangat Membaca dan Menulis

Meski dalam ukuran banyak orang Pak Andi sudah berhasil di bidangnya (dibuktikan dengan penerbitan banyak tulisan tentang statistika di jurnal internasional - sebuah prestasi yang patut mendapatkan acungan jempol mengingat masih sedikit para sarjana Indonesia yang mau dan mampu menulis dengan baik di luar penulisan skripsi, tesis, atau disertasi mereka), menurut pengakuan Pak Andi sendiri bidang pendidikan yang membesarkan namanya agak menyimpang dari skenario awal dirinya sendiri ataupun sang dosen promotornya yaitu menjadi Ilmuwan Statistika terkenal di dunia.

Dalam beberapa tulisan Pak Andi yang pernah dirangkum dalam sebuah buku dan kemudian diterbitkan dengan judul Daun-Daun Berserakan: Percikan Pemikiran Mengenai Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, tampak jelas ambisi dan cita-citanya. Ambisi dan cita-cita yang selalu terpatri erat dalam tiap benak sebagian besar muridnya yang membuat banyak muridnya tampil ke depan pentas keilmuan dengan beragam keahlian.

Pak Andi bercita-cita akan terwujudnya sebuah perkumpulan masyarakat keilmuan, tempat memupuk persaudaraan dan perkembangan ilmu. Sebagai “pabrik otak” bagi pembahasan dan penyebaran ilmu dan pengalaman dari satu orang kepada yang lainnya dan juga kepada khalayak ramai. Pak Andi juga mendorong dan memotivasi banyak muridnya untuk terus menyebarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk tulisan ilmiah populer dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Hal ini penting untuk menjembatani para ahli dari pelbagai bidang ilmu sehingga mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang komprehensif, yang membumi dan mudah untuk diaplikasikan. Sebuah cita-cita yang amat mulia.

Membaca dan menulis adalah life skills yang utama. Tulisan Prof. Andi Hakim tersebar di banyak media dan dalam beragam bentuk tulisan. Dari tulisan-tulisannya kita tahu bahwa ia gemar membaca dan memiliki wawasan yang sangat luas mengenai banyak hal. Di antara karya tulisnya itu, yang berbentuk buku ada 23 judul, antara lain Anak-anak Bintang Pari [Balai Pustaka, 1950]; Statitistik Pertanian [Yasaguna, 1967]; Matahari, Manusia, dan Makanan [Balai Pustaka, 1983]; Metode Statistik [Gramedia, ...]. Dan dari honorarium menulis inilah ia membeli rumah yang terakhir ditempatinya di Kompleks Bogor Baru Blok A-6/6, Bogor.

Bahwa Prof. Andi Hakim bisa membeli rumah dari honor menulis sedikitnya menunjukkan bahwa bila kaum akademisi konsisten menghasilkan karya tulis, maka mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk dapat bertahan hidup secara bermartabat, tanpa harus disibukkan dengan berbagai “proyek” yang bisa menyimpangkan jiwa keguruannya.

Paragraf-paragraf itu merupakan kutipan yang menggambarkan pelajaran yang bisa diambil pada Pak Andi mengenai membaca dan menulis.

Sedangkan saya punya kesan mendalam mengenai Pak Andi, sehubungan dengan penulisan buku. Bagi mahasiswa (terutama teknik) di Bandung, ada tempat bernama Dunia Baru, yang merupakan surga bagi para pencari buku murah meriah. Mengapa murah meriah, karena buku-buku asing yang aseli yang sangat susah dieproleh dan begitu mahal harganya, akan bisa diperoleh di tempat itu dalam wujud foto-copy dengan ahrga jauh di bawah harga aselinya. Ada beberapa tempat foto-copy di sekitar kampus STT Telkom yang juga menjalankan "bisnis" seperti itu (baca: pembajakan buku).

Ketika berkesempatan menengok salah satu tempat foto-copy itu, Pak Andi menemukan sebuah buku karya temannya kuliah saat di Amerika ada di tempat itu. Dan mengingat bagaimana susahnya menyusun buku, Pak Andi bercerita bahwa dia menangis mengetahui buku temannya di sini dibajak dengan bebas.

Tidak tahu mengapa, tetapi kemudian jadi ingin ikut menangis.


Ide cerita dan sumber beberapa kutipan:


11 Comments
tikabanget wrote on May 29, '08
^^
setidaknya, banyak yang menikmati hasil pemikiran teman Pak Andi.. :)
azizarsha wrote on Jul 7, '08
jadi teringat masa lalu ketika mendengarkan kuliah umum beliau. Ia selalu menquote kata2 JFK "Ask not what your country can do for you but what you can do for your country".
kangbayu wrote on Jul 18, '08
odydasa said
Pada era menjelang jatuhnya Suharto, ketika kampus lain di Bandung masih belum “berani” keluar,
Loh? Seinget saya dulu H+1 sudah pada langsung turun ke jalan dan march rame2 ke Gedung Sate =). Dari ITB juga ada beberapa dosen senior (termasuk pa Ahadiat dari FSRD) yang ikutan maju dan membujuk barikade kepolisian buat membiarkan mahasiswa lewat... dan berhasil. Padahal sebelum2nya selalu berujung bentrok.

Anyway, semoga sepak terjang pak Andi diteruskan oleh murid-muridnya, sayang kalau harus terhenti.

Salam,
odydasa wrote on Jul 18, '08
Yah... kang... sebut aja versi lain, gitu... :)
Tapi yg dari sisi ini, maskudnya adalah keluar dalam wujud parade, dan panjang lebih dari 100 m (klaim, hehehe, tapi real, memang sepanjang itu), dalam rute di atas 1 km (klaim jg, tapi dari kampus STT Telkom hingga baik ke Tol Buah Batu maupun ke Jl. M. Toha, panjangnya bisa 1 km deh).

Seringnya yg ada kan di suatu tempat umum, dan stay, atau jika mobile maka yg aku tahu tidak dalam wujud parade yang panjang dan menempuh rute yg jauh.

Dan ini sebelum hari H. Yang terpanjang adalah ketika hari pemakaman mhs USakti, parade dg berbagai kendaraan: bus, truk, mobil, motor. Dosen? Sampai2 bawa mobil sendiri untuk mengangkur rekan2nya.

Yah, tapi sekali lagi, sebut aja ini versi yg lain.
superkev wrote on Jul 20, '08
waktu saya masuk STT itu yg jadi Ketua masih Pak Andi Hakim, tapi kenapa ya di tahun2 pertama saya yg teringat bahwa beliau beberapa kali direpotkan oleh demo dan seringkali dicemooh oleh mahasiswa yg terancam DO dan pendukungnya. Sedihnya baru sekarang, soalnya aku ngga begitu mengenal dekat Pak Andi krn ga pernah diajar oleh beliau.. :( IT Telkom (a.k.a STT Telkom) sendiri apa udah punya sesuatu yg didedikasikan untuk beliau ya mas?
hendievany wrote on Sep 4, '08
dasar sesepuh masjur hahah ^.^
odydasa wrote on Sep 5, '08
Halah...
Itu sekedar buwat buikin catatan saja, mumpung belum lapuk dari ingatan.
Dirimu di mana sekarang, Van?
hendievany wrote on Sep 10, '08
melanglang buana kang mas ..di tepian cakrawala kemana matahari terbenam ... gimana ponakan ? dah gede ? atau jangan jangan mas ody dah nambah satu lagi ini anaknya ? apa istrinya ?
odydasa wrote on Sep 10, '08
halah... nambah istri?
jangan terlalu lama melanglang buana, jadi bujang lapok nanti.... :D
hendievany wrote on Sep 11, '08
loh...kan ngikut contoh sampeyan cak.. cari ilmu dulu... baru cari istri .. iki nangdi cak ? nang boyolali toh ?
weendee wrote on Sep 24, '08
Aku sempat diajar lohh, dan bener mpe sekarang ga ngerti tebakan diee...
Add a Comment